modul genetika

Written By irfan dwimardianto on Selasa, 07 Mei 2013 | 05.27



 Monohibrida
1. Diketahui tanaman Arachis hypogea dengan sifat batang tinggi yang
dominan disilangkan dengan sesama jenisnya dengan sifat batang

pendek yang resesif. Hitunglah kemungkinan keturunannya dan tentukanlah
Ratio Genotipe (RG) serta Ratio Fenotipe (RF) !
Diketahui : Arachis hypogea = batang tinggi dominan = TT
Arachis hypogea = batang pendek resesif = tt
Ditanya : Kemungkinan keturunannya dan RF, RG !                                               
Jawab :
P = TT X tt
(Arachis hypogea ( Arachis hypogea
Batang tinggi ) batang pendek )
G = T : t
F1 = Tt
(Arachis hypogea batang tinggi)
F2 = F1 X F1
Tt X Tt
(Arachis hypogea ( Arachis hypogea
batang tinggi) batang tinggi)
333
G = T , t : T , t
\ T t
T TT 1 Tt 2
t Tt 3 tt 4
RG = TT : Tt : tt
1 : 2 : 1
Jadi kemungkinan keturunan yang dihasilkan adalah
RF = Arachis hypogea batang tinggi = 3 buah
Arachis hypogea batang pendek = 1 buah
2. Diketahui bunga Mirabilis jalapa dengan warna kelopak merah yang
dominan disilangkan dengan sesama jenisnya dengan warna kelopak
putih yang resesif. Hitunglah kemungkinan keturunannya bila perkawinan
bersifat internediet dan tentukanlah Ratio Genotipe (RG) serta Ratio
fenotipe (RF)
Diketahui : Mirabilis jalapa = warna kelopak merah dominan = BB
Mirabilis jalapa = warna kelopak putih resesif = bb
Ditanya : 1. Kemungkinan keturunannya bila perkawinan
intermediet
2. RF (rasio Fenotipe) dan RG (Rasio genotipe) !
Jawab :
P = BB X bb
(Mirabilis jalapa (Mirabilis jalapa
Kelopak merah) kelopak putih)
G = B : b
F1 = Bb
(Mirabilis jalapa kelopak merah muda)
F2 = F1 X F1
Bb X Bb
( Mirabilis jalapa ( Mirabilis jalapa
kelopak merah muda) kelopak merah muda)
G = B , b : B , b
\ B b
B BB 1 Bb 2
b Bb 3 bb 4
RG = BB : Bb : bb
1 : 2 : 1
Jadi kemungkinan keturunan yang dihasilkan adalah :
RF = Mirabilis jalapa kelopak merah : 1 buah
Mirabilis jalapa Kelopak merah muda : 2 buah
Mirabilis jalapa kelopak putih : 1 buah
 Dihibrida
1. Diketahui bunga Jasminum sambac dengan sifat kelopak besar, batang
tebal yang dominan disilangkan dengan sesama jenisnya dengan
sifat kelopak kecil, batang tipis yang resesif. Hitunglah kemungkinan
keturunan dan tentukan Ratio Genotipe (RG) dan Ratio fenotipe (RF).
334
Diketahui : Jasminum sambac = kelopak besar, batang tebal
yang dominan = AADD
Jasminum sambac = kelopak kecil, batang tipis yang
Resesif = aadd
Ditanya : Kemungkinan keturunannya dan RF, RG !
Jawab :
P = AADD X aadd
(Jasminum sambac ( Jasminum sambac
Kelopak besar, batang tebal) kelopak kecil, batang tipis
G = A , D : a , d
F1 = AaDd
(Jasminum sambac kelopak besar, batang tebal)
F2 = F1 X F1
AaDd X AaDd
(Jasminum sambac (Jasminum sambac
Kelopak besar, batang tebal) kelopak besar, batang tebal)
G = AD : AD
Ad Ad
aD Ad
ad ad
\ AD Ad aD Ad
AD AADD 1 AADd 2 AaDD 3 AaDd 4
Ad AADd 5 AAdd 6 AaDd 7 Aadd 8
aD AaDD 9 AaDd 10 aaDD 11 aaDd 12
ad AaDd 13 Aadd 14 aaDd 15 aadd 16
RG = AADD : AADd : AaDD : AAdd
1 : 2 : 2 : 1
AaDd : Aadd : aaDD : aaDd : aadd
4 : 2 : 1 : 2 : 1
Jadi kemungkinan keturunan yang dihasilkan adalah bunga Jasminum
sambac dengan sifat :
RF = Jasminum sambac kelopak besar, batang tebal : 9 buah
Jasminum sambac kelopak besar, batang tipis : 3 buah
Jasminum sambac kelopak kecil, batang tebal : 3 buah
Jasminum sambac kelopak kecil, batang tipis : 1 buah
2. Diketahui Felix sp dengan sifat bulu hitam, ekor panjang yang dominan
disilangkan dengan sesama jenisnya dengan sifat bulu putih, ekor
pendek yang resesif. Hitunglah kemungkinan keturunannya bila perkawinan
bersifat intermedier/ intermediet dan tentukanlah Ratio Genotipe
(RG) serta Ratio fenotipe (RF) !
Diketahui : Felix sp = bulu hitam, ekor panjang dominan = GGHH
Felix sp = bulu putih, ekor pendek yang resesif gghh
Ditanya : 1. Kemungkinan keturunannya bila perkawinan bersifat
intermedier !
2.Tentukankalh RG dan RF nya !
Jawab :
P = GGHH X gghh
(Felix sp (Felix sp
Bulu hitam, ekor panjang) bulu putih, ekor pendek)
335
G = G, H : g , h
F1 = GgHh
(Felix sp bulu abu-abu, ekor sedang)
F2 = F1 X F1
GgHh X GgHh
( Felix sp Bulu abu-abu (Felix sp bulu abu-abu
ekor sedang) ekor sedang)
G = GH : GH
Gh Gh
gH gH
gh g
\ GH Gh gH Gh
GH GGHH 1 GGHh 2 GgHH 3 GgHh 4
Gh GGHh 5 GGhh 6 GgHh 7 Gghh 8
gH GgHH 9 GgHh 10 ggHH 11 ggHh 12
gh GgHh 13 Gghh 14 ggHh 15 gghh 16
RG = GGHH : GGHh : GGhh : GgHH :
1 : 2 : 1 : 2
GgHh : Gghh : ggHH : ggHh : gghh
4 : 2 : 1 : 2 : 1
 Jadi RF kemungkinan keturunan yang dihasilkan adalah Felix sp dengan
sifat :
 Bulu hitam, ekor panjang = 1 buah
 Bulu hitam, ekor sedang = 2 buah
 Buli hitam, ekor pendek = 1 buah
 Bulu abu-abu, ekor panjang = 2 buah
 Bulu abu-abu, ekor sedang = 4 buah
 Bulu abu-abu, ekor pendek = 2 buah
 Bulu putih, ekor panjang = 1 buah
 Bulu putih, ekor sedang = 2 buah
 Bulu putih, ekor pendek = 1 buah
TEST CROSS
Merupakan suatu cara untuk mengetahui genotipe dari suatu mahluk hidup
yang tidak nampak, sebagai contoh apakah tanaman ercis yang berbunga
ungu tersebut bergenotip UU atau Uu. Untuk menjawab hal tersebut maka dilakukan
persilangan yang dikenal dengan Test Cross (Uji silang). Uji silang dilakukan
dengan cara mengawinkan individu yang ingin diketahui genotipenya
dengan tumbuhan bergenotip homosigot resesif. Hasil perkawinan tersebut
mempunyai dua kemungkinan berikut :
1. Bila ercis tersebut bergenotipe TT (Ungu), maka hasil perkawinannya dengan
ercis bergenotipe tt (putih) akan menghasilkan semua keturunan
bergenotipe Tt, yang berarti semua fenotipe keturunannya berbunga ungu.
2. Bila ercis tersebut bergenotipe Tt (Ungu), maka hasil perkawinannya dengan
ercis bergenotipe tt (putih) akan menghasilkan ½ (setengah = 50%)
336
keturunan bergenotipe Tt (ungu) dan ½ (setengah = 50%) ber-genotipe tt
(putih), yang berarti fenotipe keturunannya 50% berbunga ungu dan 50%
berwarna putih.
Uji silang (tes cross) berbeda dengan persilangan balik (back cross).
Back cross adalah persilangan antara individu keturunan (hibrid) generasi pertama
(F1) dengan salah satu induknya. Persilangan balik dapat berupa uji silang,
bila individu F1 tersebut disilangkan dengan induknya yang homosigot
resesif.
PENYIMPANGAN SEMU HUKUM MENDEL
Pada dasarnya pola-pola penyimpangan ini, sebenarnya masih mengikut
kaidah-kaidah dari hukum Mendel —> alel berinteraksi. Pola penyimpangan ini
dikenal ada beberapa bentuk dengan Ratio fenotip F2, sebagai berikut :
a. Interaksi pasangan alela pada varietas ayam = 9 : 3 : 3 : 1
b. Polimeri (Nielson-Echle) : adalah pembastaran heterozigot dengan banyak
sifat beda yang berdiri sendiri-sendiri tetapi mempengaruhi bagian yang
sama dari suatu organisme. Pada varitas gandum = 15 : 1, polimeri pada
manusia misalnya peristiwa pigmentasi kulit.
c. Kriptomeri : adalah pembastaran heterozigot dengan adanya sifat yang
"tersembunyi" (Kriptos) yang dipengaruhi oleh suatu keadaan, pada bunga
Linaria maroccana adalah pH air sel. Pada tanaman "pukul empat" (Mirabilis
jalapa) percobaan pada Linaria maroccana = 9 : 3 : 4
d. Epistasis : adalah faktor pembawa sifat yang menutup pemunculan sifat
yang lain sekalipun sifat tersebut dominan.
e. Hipostasis : adalah faktor yang tertutupi oleh faktor lain, dijumpai pada
persilangan varietas gandum : 12 : 3 : 1
f. Koepistasis / atavisme : adalah sifat yang hipostasis pada suatu keturunan
yang pada suatu saat muncul kembali (reappearence), ditemukan pada
persilangan Lathyrus odoratus = 9 : 7 (Lathyrus odoratus = varitas ercis
yang berbiji manis).
g. Intermediat : merupakan sifat antara sifat dominan dan sifat resesif. Misalnya
merah dominan (MM), dan putih (mm), maka merah jambu/merah
muda (Mn) merupakan sifat intermediat. Hal ini terjadi karena adanya dominansi
tidak sempurna. Misalnya disilangkan bunga warna merah (MM)
dengan bunga warna putih (mm), generasi pertama (F1) menghasilkan keturunan
semua berwarna merah muda (Mm). Jika dilakukan persilangan
antar sesama generasi pertama, maka dihasilkan generasi kedua (F2) dengan
perbandingan warna 1 merah : 2 merah muda : 1 putih. Warna merah
muda inilah yang disebut sifat intermediat, karena adanya sifat dominansi
tidak sempurna merah terhadap putih.
Persilangan (Hibrida)
 Yaitu perkawinan atau persilangan antar individu yang termasuk di dalamnya
antar populasi, antar kultivar, atau antar galur dalam suatu spesies,
diberi kode “ X “
337
Pada hibrida atau polihibrida berlaku prinsip berpasangan secara bebas.
Dengan ratio fenotip (F2) hibrida normal menurut Mendel :
a. Monohibrida = 3: 1 n = 1, jumlah gamet = 2
b. Dihibrida = 9: 3: 3: 1 n = 2, jumlah gamet = 4
c. Trihibrida = 27: 9: 9: 9: 3: 3 : 3: 1 n = 3, jumlah gamet = 8
d. Polihibrida = (3:1)n n = n, jumlah gamet = 2n
e. Intermediat = 1 : 2 : 1 ----------------- sifat "SAMA DOMINAN"
(n) = jenis sifat berbeda (hibridanya).
Tabel 1. Simbol, istilah dan arti dan keterangan yang umum dijumpai dalam
ilmu genetika
Simbol/Istilah Arti & keterangan
DNA Dioksiribosa Nuclead Acid
RNA Ribosa Nuclead Acid
Gen
Yaitu pembawa sifat-sifat keturunan dari suatu induk/ orang tua,
yang terletak dalam kromosom. Setiap individu membawa
sepasang gen, satu dari induk jantan dan satu dari induk betina.
Terletak dalam suatu tempat yang disebut lokus. Biasanya terdiri
dari sepasang, seperti aa, BB, Dd dll.
Alel
Bentuk ekspresi alternatif dari suatu gen dalam kaitan dengan
sifat makhluk hidup yang menempati lokus yang sama pada
kromosom homolog, sehingga sifat dari mahluk hidup dikendalikan
oleh gen dan alelnya. Biasanya terdiri dari sepasang alel. Jika
sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda, maka ada
alel dominan (terekspresikan) dan alel resesif (tidak terekspresikan),
alel akan diwariskan pada gamet yang dibentuk
Kromosom
Yaitu struktur benang-benang protein dan berpasangan yang
memuat DNA yang membawa informasi genetik dalam sel. DNA
terbalut dalam satu atau lebih kromosom, terdapat di dalam inti
Gamet Yaitu gen yang mengandung sel kelamin, diberi kode “ G
P Parental = induk
F
Filial = Filius = keturunan, F1 artinya keturunan generasi pertama,
F2 : keturunan generasi ke dua atau keturunan dari hasil
persilangan generasi pertama.
Hidrid Hasil persilangan dari dua individu yang memiliki sifat beda,
contoh : monohibrid, dihibrid, trihibrid dll.
Hibridisasi Persilangan dua individu yang memiliki sifat berbeda
Dominan
Sifat atau karakter yang tampak atau sifat dominan pada fenotipe,
dalam penulisan dilambangkan dengan simbol huruf besar
seperti bunga merah (M) atau hijau (H), dsb. Karena bersifat
diploid maka simbol sifatnya harus dobel hurul seperti merah
(MM) dan hijau (HH)
Resesif
Sifat yang tidak tampak pada fenotipe keturunannya, sifat resesif
dilambangkan dengan hruf kecil. Misalnya k = keriput, p =
putih dll. Sifat resesif akan tampak jika ber-pasangan dengan
sesama sifat resesif, Karena bersifat diploid maka simbol sifatnya
harus dobel hurul seperti keriput (kk) dan putih (pp)
Intermediat
Sifat antara sifat dominan dan sifat resesif. Misalnya merah
dominan (M), sedangkan putih (m), maka merah jambu atau
merah muda (Mn) merupakan sifat intermediat.
Genotipe
Komposisi faktor keturunan (tidak tampak) yang ditentukan
oleh gen, misalnya merah (MM, Mm, mm), Keriting (KK, Kk, kk),
gen penentu sifat ini diturunkan.
Fenotipe Sifat yang tampak dari luar akibat interaksi antara faktor genotipe
+ bakat dengan lingkungannya.
338
Homozigot
Individu yang memiliki pasangan gen dan alel sama, misalnya HH
atau hh. Jika individu ini dikawinkan dengan sesamanya, maka
akan menghasilkan keturunan dengan sifat yang sama. Misalnya
HH >< HH atau hh >< hh akan menghasilkan keturunan
bergenotipe HH atau hh.
Hererozigot
Individu yang memiliki pasangan gen dan alel tidak sama, salah
satunya dominan dan satunya resesif, misalnya Hh. Jika indivi-du
ini dikawinkan dengan sesamanya, maka akan menghasilkan
keturunan beberapa individu ada yang memiliki sifat dan genotipe
yang sama. Misalnya Hh >< Hh = HH : Hh : Hh : hh.

Ditulis Oleh : irfan dwimardianto ~Learning Blog

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul modul genetika yang ditulis oleh Learning Blog yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 05.27